Follow by Email

Kamis, 22 November 2012

cerpen ku..

Tak kan terulang lagi
Oleh : Tri Yuni Adistya
Hari itu, angin menari-nari kian kemari, menggoyangkan apa saja yang ia lewati. Merlin memainkan rambutnya yang berterbangan dimainkan angin kecil yang nakal. Tiba-tiba sesosok tubuh yang sangat di kenalnya berjalan begitu sombong sambil membawa semangkuk pangsit yang dia beli di kantin pak Dullah. Rambutnya menari-nari di tiup angin yang menyejukkan.
Praanggg…
Mangkuk pangsit terjatuh dan terpecah menjadi beberapa keping.
            “AAWW, panas” Merlin mengibar-ngibarkan seragamnya karna kepanasan terkena kuah pangsit yang masih panas.
“HEH, kalau jalan liat-liat dong, kelaperan deh gue, pokoknya loe harus ganti” Erik mencak-mencak nggak tau diri, padahal dia yang numpahin. Bukannya minta maaf malah teriak-teriak di depan wajah Merlin.
“eh, elo yang numpahin gue, pasti loe sengaja kan? Dasar cowok brengsek” Merlin mulai marah dan bosan selalu adu mulut dengannya, ia mulai menjauh dan pergi meninggalkannya sendiri seperti sapi ompong.
“Heh, loe punya mulut tuh di jaga” Erik menggenggam lengan Merlin sampai terasa sakit hingga ke tulang, lalu ia mendorong tubuh Merlin hingga terjerembak di atas rumput hijau yang menjerit.
Merlin merasakan sakit hati di perlakukan seperti itu, ia berjanji dalam hati akan membuat perhitungan dengannya. Huft, terpaksa Merlin harus melepas seragamnya dan hanya memakai baju kaus dan di lapis jaket. Ya mau gak mau, mau bagaimana lagi.
Siang itu, Erik memesan minuman di kantin. Tanpa sengaja Merlin melihatnya, ia berpura-pura ingin membeli juga di kantin, padahal ia sedang menjalankan siasat yang sudah ia pikirkan sejak lama. Ia sengaja membelakangi Erik and the geng agar rencananya tidak gagal.perlahan-lahan ia memasukkan banyak garam yang sengaja ia beli di kantin saat jam istirahat pertama. Wah kurang nyos nih, tambah lagi obat diare yang ia ambil dari kotak p3k. 1, 2 ,3, 4, 5 kayak nya cukup nih. Plung-plung-plung. Beres deh, tinggal nunggu dia bolak-balik ke belakang.
Tiba-tiba Erik datang akan mengambil minuman pesanannya. Merlin langsung kabur dengan cepat, dan pura-pura menunggu pesanannya. Padahal kan dia nggak ada mesen.
Dari kejauhan Erik melihat Merlin yang sedang senyam-senyum nggak jelas sambil membolak-balik majalahnya.
“manis juga tuh anak” kata Erik dalam hati.
Tuk-tuk-tuk, Erik melangkah pergi dari kantin tanpa meminum sedikitpun pesanannya.
“wah kemana tuh, gue harus mastiin kalau dia beneran minum tuh ramuan ajip gue” kata Merlin berkata dalam hati ketika menyadari Erik tidak duduk lagi di tempat tongkrongannya.
Dari kejauhan, ia mengendap-endap seperti mau maling ayam.
“loh-loh-loh, kok dia ke kantor guru sih, waduh mampus gue” Merlin menepok jidatnya pelan. Wah-wah-wah salah sasaran nih, mampus deh kalau Erik ngomong macem-macem. Jantung Merlin berdegup begitu cepat, jantungnya serasa mau copot.
b*a
“ERIIK, MINUMAN APA INI? Asin banget sih, kamu sengaja mau ngerjai bapak?” pak Edo mengeluarkan urat-urat nya sampai terlihat oleh mata telanjang. “SEKARANG, KAMU HORMAT DI TIANG BENDERA” pak Edo mengusir Erik dengan suara yang menggelagar, memecahkan kesunyian di dalam kantor yang sepi.
“tapi benderanya lagi dicuci pak?” alasan yang lucu bagi anak SMU kelas 3.
“saya gak mau tau, CEPAT PERGI”
Erik langsung meningalkan lapangan dan menuju lapangan yang di penuhi anak-anak bermain basket. Huft, dari pada mandangin tiang telanjang tanpa bendera mendingan main basket bareng anak-anak. Tanpa rasa takut ia mulai menuju tengah lapangan. Baru aja mendrible bola sekali. Pak Edo teriak-teriak seperti di hutan. Ampyuun, malu-maluin aja.
“kayak nya Erik nggak ngomong apa-apa sama pak Edo, baguslah, biar dia ngerasain rasanya di bikin malu” kata Merlin berkata dalam hati sambil memandang Erik dengan tatapan benci, bahagia, merdeka dan senyum sinis.
Ada rasa ngeganjel di pikiran Erik ketika tanpa sengaja melihat Merlin berdiri di samping pohon jambu dan menatapnya dengan tatapan bahagia. “pasti dia yang ngerjain gue, sial”
b*a
Teng-tong-teng, bel tanda pulang sekolah berdering. Semua murid langsng menyerbu parkiran sekolah, untuk menemui kendaraannya yang setia menunggu kedatangannya.
Tiin-tiin, “lama ya say nunggunya?” kata Ferdi sang pacar Merlin yang duduk manis di atas motor kesayangannya.
“nggak kok, yuk” Merlin langsung menaiki motor Ferdi dengan gesit.
Motor langsung di jalankan dengan pelan. Padahal jalan lagi sepi, nggak rame lah bahasanya. Ya biasalah, mungkin pingin berlama-lama dengan kekasihnya. So sweet.
DUBRAAK, motor Ferdi jatuh dan terlempar jauh. Tangan Merlin berdarah terkena pecahan kaca di pinggir jalan.  Sial, itu kan mobil Erik. Merlin kenal banget sama tuh mobil. Brengsek.
Ferdi yang melihak keadaan Merlin dengan darah yang mengalir begitu panik. Dia bisa kehabisan darah kalau terus mengalir. Ferdi segera membawanya ke rumah sakit terdekat, sayang sekali, susah banget nyari taksi. Duh, udah nggak ada waktu lagi. Ferdi segera menggendongnya dan berlari menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Ferdi langsung membawanya ke dalam dan di periksa, lalu di balut perban. Syukurlah tidak apa-apa, kata dokter ada pecahan kaca yang tersangkut, tapi tidak terlalu dalam, jadi mudah di keluarkan.
b*a
Keesokan harinya…
Ferdi and the geng sedang ngumpul di depan kelas. Saat Merlin tiba dengan lengan di balut perban, ada senyum bahagia mengembang di bibir Erik. Bukan karna kedatangan Merlin, tapi keadaan Merlin yang di balut luka.
Tiba-tiba Erik berdiri dan berjalan menuju Merin. Dengan sengaja, ia menyenggol lengan Merlin yang di balut perban. “Aww” Merlin merasakan sakit luar dalam. Sial tuh orang, sudah penyebab kecelakaan, nggak ada rasa bersalah sedikit pun.
“dasar brengsek loe, beraninya main belakang, BANCI” Merlin memaki tanpa rasa dosa sedikitpun. Dia benar-benar benci dengan Erik saat itu juga.
“Heh, loe duluan kan yang mulai”
“oh ya?” Merlin langsung pergi meninggalkannya sendiri.
“sialan loe” Erik langsung mendorongnya dari belakang hingga membentur batu. So, kepalanya bocor dan mengeluarkan darah.
Semua orang yang berada di sana terkejut melihat Merlin yang berteriak kesakitan, lalu pingsan seketika. Tanpa basa-basi lagi, teman-temannya langsung membawanya ke UKS untuk di berhentikan darahnya dan di perban se-rapi mungkin.
“loe emang jahat Rik, nggak nyangka loe setega itu sama teman sendiri” kata Rido, teman gengnya. Dengan nada serius, ia mulai kesal dengan ketua gengnya.
“dia bukan teman gue” sikapnya masih cuek, walau di hatinya merasa bersalah.
“biarpun dia musuh loe, tapi tetep aja, kita udah sekelas selama 2 TAHUN” Rido langsung meninggalkan Erik sendirian, membiarkannya menatap kepergian Rido dengan rasa kesal.
Saat di UKS, Suzi ketua PMR menyarankan Merlin segera di bawa ke rumah sakit sebelum darahnya keluar lagi. Buat jaga-jaga, mungkin saja ada yang retak di daerah kepalanya. Mendapat perintah dari ketua PMR, teman-temannya langsung membawa Merlin dengan mobil jazz milik Rido.
Kepala sekolah akhirnya mendengar berita tentang kecelakaan Merlin langsung memanggil Erik sebagai pelaku yang di kabarkan oleh teman gengnya sendiri, Roland. Kepala sekolah sangat marah dengan tingkahnya, sampai akhirnya ia di skors selama 2 minggu. Berita buruk bukan bagi Erik si jago olimpiade segala bidang..
b*a
Saat kepala Merlin di Rontgen, ternyata tulang belakang kepalanya ada yang retak sedikit dan Merlin terkena amnesia. Amnesia jangka panjang, mungkin itu yang di bilang para dokter. So, dia melupakan semuanya. Mengingat keluarganya saja dia susah, apalagi teman-temannya dan pelajarannya.

b*a
Selama skorsing berjalan adalah waktu membosankan bagi Erik. Suatu saat ia menemukan sebuah alamat di lepitan buku yang ia baca. Alamat itu adalah alamat sahabatnya yang sudah ia lupakan sejak Erin pindah ke luar kota, Erin. Tanpa berfikir panjang, ia langsung pergi menuju alamat yang tertera.
Sesampainya disana, ia bernostalgia tentang sahabatnya yang lucu bagai boneka jepang. Tok-tok-tok, seseorang di dalam terdengar sedang berlari menuju pintu dan langsung membukanya. Wanita itu adalah mama nya Erin, masih terlihat cantik walau sudah di makan usia.
“pagi tante? Apa kabar? saya si jangkrik tante” kata Erik yang saat kecil di panggil jangkrik oleh Erin. Katanya sih karna nama Erik mirip nama jangkrik. Hehehe.. J
Mama Erin terlihat bengong memperhatikan wajah Erik yang sudah dewasa. Cukup lama Erik menunggu untuk di persilahkan masuk. Tiba-tiba matanya langsung mengedip, seperti mengembalikan sedikit memori tentang si jangkrik. Dengan sengaja mama Erin langsung memeluk Erik, sampai membuat Erik terkejut. Sudah lama ia tak merasakan kehangatan orang tua, semejak orang tuanya bercerai.
Akhirnya mereka berdua mengobrol layaknya ibu dan anak, sampai kelupaan kalau yang mau di temuinya bukanlah mama Erin tapi ya Erin sendiri yang sudah pasti nggak bakal ingat dia.
Saat mama Erin pergi untuk memanggil Erin, Erik melihat sebuah buku di bawah meja tamu. Bertuliskan Diary Erin, dasar ceroboh. Tanpa menunggu lagi, ia langsung membaca lembar demi lembar, membuat mata Erik berkaca-kaca, ia marah pada dirinya sendiri karna tak bisa menjaga Erin dari kelakuan temannya yang menjengkelkan.
Langkah sandal besar mulai terdengar, Erik langsung meletakkan buku itu lagi di bawah meja. Saat sesosok tubuh cantik yang tak asing lagi di memorinya keluar dari kamar. Betapa terkejutnya dia, matanya terbelalak dan mengeluarkan air mata sangking tak percayanya.
“siapa dia Ma?” kata Merlin dengan wajah polos dan kepala di balut perban.
Mamanya langsung menjelaskannya, tapi Merlin tetap tidak bisa mengingatnya. Karena semakin di ingat, semakin sempoyongan tubuhnya. Langsung saja kepala Erik terasa berputar, ia menangis tersedu-sedu. Sedih atas perlakuannya terhadap sahabatnya sendiri selama 2 tahun terakhir.
Kalau saja Erik tau kalau Merlin adalah Erin. Semua ini tak akan pernah terjadi. Bahkan ia harus mengulangnya dari awal, mengenang masa kecil yang indah bersama Erin yang dia sayangi, mengulang dari awal tentang pertemanan yang ia hancurkan dengan sengaja.
Semua masa lalu harus ia hilangkan, dan mencoba memulai hidup baru dengan Erin yang lupa dengannya. No problem, setiap detik adalah waktu yang berharga bersama Erin. Yaa, walaupun harus mengajari Erin seperti bocah cilik yang baru belajar.
Hidup ini harus dijalani dengan semangat dan senyuman.

The end